Jumat, 25 Maret 2011

Rahasia di Balik Pajak

               Pajak adalah suatu iuran wajib yang harus dibayar oleh wajib pajak kepada negara. Dalam kenyataannya, pajak masih dijadikan momok bagi beberapa kalangan. Orang masih banyak yang tidak sadar akan pentinganya membayar pajak. Sebisa mungkin orang yang seharusnya wajib pajak bersembunyi untuk membebaskan diri dari pembayaran pajak. Pada hakekatnya, pajak adalah pemasukan terbesar dari negara. Sebagian besar APBN berasal dari pembayaran pajak. Jika hal tersebut dapat tercapai dengan baik, tentunya negara kita akan menjadi negara yang dapat menutup APBN tanpa hutang. Kenyataannya, negara kita masih belum bisa menutupi pembiayaan APBN. Hal tersebut disebabkan oleh kurang maksimalnya pemasukan negara dari sektor pajak. Menurut informasi yang saya peroleh, kurang maksimalnya pendapatan dari sektor pajak dikarenakan oleh beberapa faktor : 
  1. UU perpajakan belum membidik semua obyek pajak. 
  2. Kesadaran masyarakat membayar pajak belum ideal sehingga rasio pajak masih rendah. 
  3. Efektivitas peran Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan belum maksimal. 
  4. Birokrasi negara "melahirkan dan menumbuh-kembangkan" mafia pajak.
                 
               Jika melihat dari kenyataannya, pemerintah memang belum maksimal dalam proses pembayaran pajak. Banyak usaha yang semestinya terkena pajak, tetapi mereka dapat dengan bebas menikmati penghasilan dari usahanya tanpa terkena pajak. UU perpajakan pemerintah memang dirasa kurang untuk memaksa seseorang yang semestinya harus melaporkan dan bertanggung jawab sebagai wajib pajak. Hal tersebut mengakibatkan, calon wajib pajak menyepelehkan kepentingan membayar pajak. Karena pemerintah  sendiri telah memberlakukan sistem 'Menghitung sendiri' , 'Lapor sendiri', 'Membayar sendiri' bagi seorang calon wajib pajak. Jangankan seorang wajib pajak, orang yang sudah tercatat sebagai wajib pajak juga masih bisa terhindar dari hutang pajak. Beberapa wajib pajak masih sering tidak memenuhi kewajibannya sebagai wajib pajak yang baik. Oleh karena itu, kasus tersebut memang perlu efektivitas lebih dari peran Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan. Sehingga, wajib pajak ataupun calon wajib pajak dapat termotivasi dengan baik untuk memenuhi kewajibannya dalam membayar pajak.

               Kasus tersebut adalah sebagian kecil dari faktor kurang maksimalnya pendapatan negara dari sektor pajak. Sebagian besar wajib pajak memang sudah sadar akan pentingnya membayar pajak. Tetapi, adanya birokrasi negara yang melahirkan dan menumbuh kembangkan mafia pajak mengakibatkan berkurangnya sebagian besar pendapatan negara dari sektor pajak. Mafia pajak secara tidak langsung telah memaksa kita sebagai kaum awam membayar lebih untuk menutup bunga hutang negara. Karena sebagian besar pendapatan pajak negara telah di rampok oleh mafia pajak untuk kepentingan pribadinya. Sehingga, negara mau tidak mau harus mencari pinjaman luar negeri maupun pinjaman di pasar uang untuk menutupi pembiayaan APBN. Menurut informasi, pendapatan pajak negara 2010 mencapai  Rp 649,042 triliun, sementara jumlah yang dirampok mafia pajak mendekati Rp400 triliun per tahun.

               Sudah seharusnya pemerintah lebih serius dalam pemberantasan mafia pajak. Karena jika masalah tersebut tidak ditangani dengan semaksimal mungkin, hal tersebut lambat laun akan menjadi monster yang menggerogoti aset negara. Secara tidak langsung mafia pajak juga akan menjadi penghambat bagi negara untuk lebih maju.Dan kita sebagai warga negara yang baik, harus sadar akan pentingnya membayar pajak. Sehingga secara tidak langsung kita membantu negara kita untuk lebih maju dalam berbagai sektor. Khususnya sektor pajak.

Minggu, 26 Desember 2010

Kepuasan Konsumen Kunci dari Kegiatan Marketing

Marketing, bicara soal itu saya rasa semua orang tahu apa itu marketing? tapi mungkin masih banyak orang yang belum begitu memahaminya. Banyak pendapat, bahwa orang-orang jurusan marketing atau orang-orang yang bekerja di perusahaan di bagian marketinglah yang paling memahami apa secara keseluruhan marketing itu. Dan bahwa hanya orang-orang itulah yang selalu melakukan kegiatan marketing. Eit, tunggu dulu jangan membenarkan juga pendapat tersebut! Karena di era globalisasi ini, banyak juga kaum awam secara tidak sadar telah melakukan kegiatan marketing. Kaum awam tersebut terdiri dari beberapa banyak kalangan mulai dari guru, dosen, mahasiswa, pelajar, bahkan ibu rumah tangga, dan masih banyak lainnya. Sebagai contohnya, seorang ibu rumah tangga berjualan pakaian untuk menambah penghasilan rumah tangganya. Secara tidak langsung, ibu rumah tangga itu telah melakukan kegiatan marketing bukan. Seorang mahasiswa menjadi member sebuah bisnis MLM di bidang kosmetik. Sudah tentu mahasiswa itu harus memasarkan produk perusahaan MLM tersebut. Intinya, tanpa bekerja di bidang marketing pun kita juga sering melakukan kegiatan marketing.
Permasalahannya apakah kita memahami benar apa itu marketing?Apa kunci dan kiat khusus dalam melakukan kegiatan marketing? Menurut pemahaman saya, marketing adalah suatu kegiatan untuk memperkenalkan dan menawarkan barang atau jasa yang kita produksi dengan tujuan untuk mencari laba. Bicara soal keuntungan, sudah pasti dalam kegiatan marketing terdapat suatu tujuan untuk mencari laba. Menurut saya, laba mempunyai andil cukup besar sebagai motivasi untuk mengembangkan usaha dalam kegiatan marketing. Jika seorang produsen berani memikirkan laba yang lebih besar ,  tentunya  produsen juga harus berani menanggung pemikiran untuk memahami keinginan dan kebutuhan  konsumen.  Sehingga  konsumen dapat terpuaskan oleh produknya. Sebagai contoh, seorang produsen kripik tempe ingin mempunyai keuntungan lebih dari usahanya. Tidak mungkin jika seorang produsen langsung menaikkan dengan tinggi harga kripik tempenya. Dijamin keputusan tersebut justru akan mematikan usahanya karena konsumen akan memikirkan lagi harga dan kepuasan yang didapat dari mengkonsumsi kripik tempe tersebut. Mau tidak mau produsen harus memikirkan variasi baru untuk kripik tempenya, agar keuntungan lebih yang ingin diterima dapat sesuai dengan keinginan dan kepuasan konsumen. Kripik tempe yang semula hanya memilki rasa asin (original), kini divariasi dengan rasa keju, BBQ, pedas manis, dll. Sudah tentu harga kripik tempe variasi rasa akan lebih mahal dibandingkan dengan kripik tempe original. Dari variasi tersebut, produsen dapat menaikkan harga dan kemudian mengambil keuntungan lebih. Tentunya dengan mempertimbangkan modal bahan baku dan lain sebagainya untuk keperluan proses produksi agar biaya produksi dapat sesuai dengan harga jual kripik tempe tersebut.
Kuncinya, dalam kegiatan marketing, jika kita memahami benar apa yang diinginkan dan dibutuhkan konsumen maka kemungkinan besar usaha yang kita jalankan juga akan sukses.